seperti kunang-kunang
di tangan kenangan
bagai terpegang
terbang pelan
menghilang
ke dalam
sebuah rimbun di halaman
[01.2008]
Posted at 04:10 pm by jimpe
(interpretasi atas pulk/revolving doors-radiohead [amnesiac])
pintu-pintu gudang itu
adalah pintu-pintu berputar
pintu di ruang-ruang kemudi
kapal-kapal pesar
dan pintu-pintu terus berputar
adalah pintu yang membuka
dirinya sendiri
pintu-pintu geser
dan pintu-pintu rahasia
adalah pintu yang terkunci
pintu-pintu larangan
ada pula pintu yang membawamu masuk dan keluar
tapi tak akan pernah terbuka
dan ada pintu-pintu jebakan
yang membuatmu tak bisa pulang
[12.2007]
Posted at 12:31 am by jimpe
segala gelap
pekat yang lengkap
telah ditangkup ke dalam sajak
hanya pagi yang mekar
awannya merah, seperti gincu gadis
menuju pasar
[12.2007]
Posted at 05:55 pm by jimpe
(interpretasi atas pyramid song-radiohead [amnesiac])
di sungai ini aku tenggelam
dan tahukah engkau apa yang kusaksikan?
malaikat bermata malam menemaniku berenang
serongsok bulan penuh bintang,
juga gugusan kereta
seluruh sosok yang pernah aku sapa
ditemani kekasih-kekasih
abad-abad silam juga masa nanti
lalu kami berangkat ke surga di balik awan
terengah-engah mendayung sampan
tak ada yang perlu ditakutkan dan diragukan
ya, tak perlu kecut dan takut.
[12.2007]
Posted at 01:05 am by jimpe
di sebidang dada, di sehampar padang yang dikepung penjuru
dan segala ufuk, sungai-sungai berdetak, tak berhenti mengalirkan
doa yang tak pernah cukup
tak lelah memanggil purnama agar jalan lengang segera terang,
menuju sebuah peluk.
malam-malam yang penuh kembang api, bunyi mercon
yang mengilukan pinggang kananku, dan degub beduk lebaran
yang terus aku peram di dada kiriku akan aku buka untukmu,
bila kelak tiba di depanmu.
tapi engkau terus melangkah pergi ke arah ufuk,
menjauh dari doa-doaku.
[12.2007]
Posted at 03:55 pm by jimpe
(terjemahan bebas dari videotape-radiohead)
setiba di pintu-pintu berkemilau mutiara ini
akan aku dekam ke dalam perekam, ke segala perekam
karena elmaut di belakang sana menguntit
menjulurkan tangan, ingin mencekik
maka datanglah hari yang penuh puisi
yang membungkusku di sini
menjadi merah, biru, hijau
memerah, membiru, menghijau
engkaulah pusat dari segala pengisaranku
di luar dari yang engkau lihat di perekam
dari segala yang berdiam
yang aku peram dalam perekam
tapi beginilah akhirnya aku harus melambai
karena tak akan mampu aku memandang wajahmu
dan aku bicara padamu sebelum malabala itu tiba
lewat perekam ini
bila pun ada yang terjadi hari ini, tak usah takut
hari ini, aku rasa, hari paling hijau yang pernah tiba di mataku.
[12.2007]
Posted at 03:48 am by jimpe
sepasang warna mata
ia sembunyikan sepanjang masa
ke dalam sebuah lukisan
ditebarnya warna itu ke segala ufuk
untuk mengantar magrib pulang
tapi kini ia gugup
karena pagi segera datang
tak ada lagi warna bagi langit
untuk menyambut segala terbit
[11.2007]
Posted at 01:48 am by jimpe
begitu lahir, engkau gelagap mencari airmata
ingin turut dalam haru para karib
yang memasang dua ufuk magrib
dan sepasang matahari di wajah,
yang mengalirkan sungai-sungai doa;
mereka tahu sudah waktunya ingsut dan terbenam
untuk itu, mata masih kau pejam
lalu dua matahari yang kau simpan di kelopak pagi
pelan kau buka, berpendar cahayanya begitu kata-kata dieja
bangun terbungkuk mencari makna
tapi yang kau temui embun, yang serupa airmata,
termenung setiap pagi, di ujung-ujung rumput yang gemetar
menadah hari-hari
dan malam ini, mengalir sepasang sungai yang bermuara di
ufuk yang kau katup, menatap kikuk bulan yang serupa rahim
dengan sesosok bayi yang ringkuk
seraya mereka-reka, adakah yang lahir kali ini
[11.2007]
Posted at 10:39 am by jimpe
(interpretasi bebas lagu and it rained all night-Thom Yorke [the eraser])
lalu hujan membasuh segala malam
dan hanyutlah segala kelam
turun ke udara new york yang redam
gemeretak rel baja, melintas lokomotif hitam
sejuta mesin menderu memuat hampa
bom waktu yang bertiktok sedih
di beton bawah tanah lima puluh kaki
seperti tetes-tetes yang membentuk danau
bisikkanlah ke telingaku segala sengau
kusulap menjadi lagu
kratakkratakkrutuk
aku bosan menyahut
pendulum di jam pak tua terus berayun
masih aku pandangi kau dari jauh
tak pernah mampu menyentuhmu
hujan mengepung malam
dan hari-hari pun murung
tetesnya memenuhi wajah dan tangan
kunang-kunang keluar sarang
bertanya ada apa gerangan
kita masih menarik kereta tenggelam
keluar dari sungai yang membentang
tidaklah menyedihkan
gaib namun karib
tak kenal lelah
tak terdedah-bantah
dan tak bisa kau sangkal
lalu kenapa ia terlihat indah?
bagaimana bisa bulan tanggal dari langit?
aku mampu menatapmu
tapi aku tak akan pernah bisa menyentuhmu
ya, aku hanya mampu menatapmu
[11.2007]
Posted at 04:08 am by jimpe
bagai tetes embun pertama menyentuh kolam
tiga kali detak jam ini malam
lalu gelombang sepi menuju tepi
mengangguk bebatang rumput itu berkali-kali
[10.2007]
Posted at 03:11 am by jimpe