SEBUAH KOTA AKU TULIS SETELAH PULANG
di setiap perjalanan pulang, aku terus membayangkanmu
datang menyusul setengah jam saja setibaku, ketika baju
belum kupakai kembali. aku berkeringat, cuaca kota
di sebuah sajak yang kutulis bulan ini lebih hangat.
lalu dari dapur hingga ruang tamu terdengar harga beras
merengek padamu, jalan-jalan yang penuh sirene juga silau lampu
debunya meminta siram seraya menarik dastermu.
tapi di dalam sajakku, di relung kelopak kota itu,
muncul mendung yang gaib. cuaca hangat pun mulai raib,
lalu gelap datang sedikit-sedikit.
segera kuterobos hutan-hutan. rencana aku ingin pulang
membawa awan atau seguyur hujan.
tapi yang aku dapat hanya beberapa butir embun di tangan
kuteteskan di jalan-jalan menjadi semacam genangan
semoga belum menguap begitu subuh menjadi lengkap.
toh, kota tiada lengkap tanpa genangan
atau kilap basah di jalan.
aku beralih ke sebatang lorong sepi di kota
seseorang menggumamkan sebuah nyanyian di sana.
ia aku berangkatkan karena ingin merasai
musim hujan menyentuh ujung-ujung jari kakinya
berlekas ia dalam keriangan cahaya subuh
tapi gemetar kedinginan, bagai permukaan genangan
yang digiur tiupan.
dalam perjalanan, katanya,
yang terlewati ada saja yang tak sempat diberi nama
tapi mesti diberi amsal, biar tak menyesal
berhari-hari ia berjalan sempoyong.
ada pagi dan senja di dua bulir
matahari yang menyembul dari sudut matanya.
dan di antara sabar tiang-tiang lampu juga beringin
yang menunduk malu, ia menunggu trotoar bercerita;
siapa gerangan pemilik jejak basah yang menjauh
dari genangan.
[09.2007]
Posted at 03:43 am by jimpe
diam-diam tumbuh belukar cemburu
usai menelusur gang kecil di sajak-sajakmu
lumpur memberat di telapak sepatuku
bagai sajak yang belum utuh
ingin aku buang jauh
tapi di segala malamku masih tumbuh ragu
jalan-jalan jadi becek meresapi haru
[08.2007]
Posted at 02:09 am by jimpe
bulan menengok ke jendela
mengetuk dan menciumi kaca
apa ada yang hendak diterangi malam ini, katanya
padahal baru saja, sebuah sedih lewat, merayap ke dahan
beringin yang menjulur dingin di sudut lain jendela itu
lalu hujan akan turun meluruhkannya ke tanah
dan menumbuhkan rumput-rumput di bawahnya
tempat anak-anakmu bermain dan tertawa
juga dua sungai dari sudut matamu yang bulan
mengalir mencoba mengenali kesedihan yang pernah datang
dari sebuah jendela
[07.2007]
Posted at 03:55 am by jimpe
TIGAPULUH EMPAT MUSIM HENING
-tanda kabung untuk ceriyati binti dapin
nasib telah kuulur
biarlah lepas bagai layangan
tersangkut di dahan harapan
tigapuluh empat musim hening bersemai
akan kuulur turun dari lantai 15
akan kubawa pulang, kusaji untuk orang-orang sepi.
[06.2007]
Posted at 01:47 am by jimpe
DI TELINGAKU TUMBUH HENING
di telingaku yang bagai selembar daun kering
tumbuh hening yang bergeming
seperti batu yang siap menggelinding
ke tubir tebing
menjelma sentak
dalam sajak
[06.2007]
SAJAK PERAHU
ini perahu yang tak punya dermaga pulang
tiada sempat gulung layar dan diam
sejak angin bersiasat dengan karang
membuatnya karam menjelma pulau haram
[06.2007]
Posted at 11:21 pm by jimpe
usai hujan berdesing
seekor kucing pening mencari hangat hening
sekitar sebuah mesin
dan hujan yang tak mampu menahan guyur
di dalam sajak ia lebur
[06.2007]
Posted at 10:53 pm by jimpe
[Episode Londa]
engkau membuat misal yang mengkal, bila kita sepasang kupu-kupu,
engkaulah si sayap biru, sedang aku yang kuning berbintik kelabu
bertemu di sebuah guha kesedihan. saling mengelus sayap
yang rompang karena terbentur di tebing terjal, setelah mengarung
angin banal.
tak ada kuncup yang mulai buyar. dalam gelap ini hanya
ada sepi yang mekar. sulurnya menjalar ke pintu-pintu lebar.
yang ada hanya perjamuan abadi
tetes air dari sela batu murung, yang merembesi
keranda-keranda kesedihan purba
untuk jutaan kupu-kupu dari segala sendi
tulang-tulang orang mati
[05.2007]
Posted at 12:45 am by jimpe
sedihmu pagi ini dicukupkan oleh bunga-bunga yang mulai layu
silet tumpul dan tak bisa lagi mencukur kerut melankoli di dagumu
juga pipa pecah yang dulunya setia mengalirkan semacam damba
dan penuh haru kau basuhkan ke tubuhmu yang dipenuhi ragu
pagi beginilah yang selalu ingin engkau kutuk
bukan sebab tak ada teh hangat di beranda sepi
tapi engkau tahu tak akan ada ucapan selamat pagi
setelah engkau melewatkan malam yang terhuyung mabuk
oleh lampu kamar redup yang ditinggalkan kelana kunang-kunang
cuaca lalu mendingin dan engkau terbatuk sendirian
[04.2007]
Posted at 12:37 am by jimpe
purnama tenang
laut padam
engkau tak terbilang
aku karam
[04.2007]
Posted at 12:33 am by jimpe
kunang-kunang kenangan
bercahaya setitik ingin pulang
ke lebat angin hutan ingin
[01.2007]
Posted at 12:30 am by jimpe