|
lalu hujan membasuh segala malam dan hanyutlah segala kelam turun ke udara new york yang redam gemeretak rel baja, melintas lokomotif hitam sejuta mesin menderu memuat hampa bom waktu yang bertiktok sedih di beton bawah tanah lima puluh kaki seperti tetes-tetes yang membentuk danau bisikkanlah ke telingaku segala sengau kusulap menjadi lagu kratakkratakkrutuk aku bosan menyahut pendulum di jam pak tua terus berayun masih aku pandangi kau dari jauh tak pernah mampu menyentuhmu hujan mengepung malam dan hari-hari pun murung tetesnya memenuhi wajah dan tangan kunang-kunang keluar sarang bertanya ada apa gerangan kita masih menarik kereta tenggelam keluar dari sungai yang membentang tidaklah menyedihkan gaib namun karib tak kenal lelah tak terdedah-bantah dan tak bisa kau sangkal lalu kenapa ia terlihat indah? bagaimana bisa bulan tanggal dari langit? aku mampu menatapmu tapi aku tak akan pernah bisa menyentuhmu ya, aku hanya mampu menatapmu [11.2007] |
| Leave a Comment: |