|
ingin turut dalam haru para karib yang memasang dua ufuk magrib dan sepasang matahari di wajah, yang mengalirkan sungai-sungai doa; mereka tahu sudah waktunya ingsut dan terbenam untuk itu, mata masih kau pejam lalu dua matahari yang kau simpan di kelopak pagi pelan kau buka, berpendar cahayanya begitu kata-kata dieja bangun terbungkuk mencari makna tapi yang kau temui embun, yang serupa airmata, termenung setiap pagi, di ujung-ujung rumput yang gemetar menadah hari-hari dan malam ini, mengalir sepasang sungai yang bermuara di ufuk yang kau katup, menatap kikuk bulan yang serupa rahim dengan sesosok bayi yang ringkuk seraya mereka-reka, adakah yang lahir kali ini [11.2007] |
| Leave a Comment: |